Ida Dalem Ketut Kresna Kepakisan

Ida Dalem Ketut Kresna Kepakisan adalah putra dari Soma Kepakisan, beliau menjadi raja menggantikan ayahnya di Bali Dwipa pada tahun 1350 M atau 1272 isaka.

Oleh penduduk Bali Ida Ketut Kresna Kepakisan disebut sebagai I Dewa Wawu Rawuh atau Dalem Tegal Besung sebagaimana diceritakan dalam artikel blog puri Pemecutan Bedulu Majapahit, Dalem Kresna Kepakisan yang awalnya dalam perjalanannya dari Majapahit ke Pulau Bali, rombongan tersebut mendarat di pantai Lebih, kemudian ke arah timur laut menuju Samprangan.

Dalam pemerintahannya Dalem Sri Ketut Kresna Kepakisan didampingi oleh Arya Kepakisan / Sri Nararya Kresna Kepakisan yang menjabat sebagai Patih Agung berasal dari Dinasti Warmadewa yang merupakan keturunan Raja atau Kesatrya Kediri.

Sehingga baik Adipati maupun Patih Agungnya berasal dari satu desa yaitu desa Pakis di Jawa Timur sehingga setibanya beliau di Bali menggunakan nama yang hampir sama yaitu Adipatinya bergelar Dalem Ketut Kresna Kepakisan sedangkan patih agungnya bergelar Arya Kepakisan atau Sri Nararya Kresna Kepakisan

Dalam pemerintahannya Dalem Ketut Kresna Kepakisan yang juga didampingi oleh Ki Patih Wulung yang menjabat sebagai Mangku Bumi. Ibu kota Kerajaan dipindahkan dari Gelgel ke Samprangan (Samplangan). Dipilihnya Daerah Samprangan karena ketika ekspedisi Gajah Mada, desa Samprangan mempunyai arti historis, yaitu sebagai perkemahan Gajah Mada serta tempat mengatur strategi untuk menyerang kerajaan Bedahulu. Dalam kenyataan menunjukkan bahwa jarak desa Bedahulu ke Samprangan hanya kurang lebih 5 km.

***
Pada tahun Saka 1274 tatkala terjadi pemberontakan orang-orang Bali Aga yang menentang pemerintahannya di Samprangan, Beliau dibantu oleh I Gusti Pangeran Pasek Tohjiwa yang ditunjuk sebagai wakil pimpinan perutusan Samprangan ke Tapurhyang Batur untuk mendamaikan pemberontakan orang-orang Bali Aga tersebut.
***

Dikisahkan kemudian, dari Babad Dalem diketahui bahwa dalam menjalankan pemerintahan sebagai wakil dari Majapahit di Pulau Bali Dalem Sri Ketut Kresna Kepakisan dibekali dengan pakaian kebesaran kerajaan dan sebilah keris yang bernama Si Ganja Dungkul yang memberikan konsep kebudayaan yang memadukan kebudayaan Jawa dengan Bali, dan tanda-tanda kebesaran itu berfungsi sebagai symbol atau lambang kekuasaan yang sah.

Dalem Sri Ketut Kresna Kepakisan beristri dua, yaitu yang pertama:

Ni Gusti Ayu Gajah Para, merupakan putri dari Arya Gajah Para melahirkan:
Dari Istri yang kedua: Ni Gusti Ayu Kuta Waringin merupakan putri dari Arya Kutawaringin , melahirkan:
  • Dewa Tegal Besung.
Tahun 1380 Dalem Ketut Kresna Kapakisan wafat sebagaimana disebutkan dalam artikel sejarah buleleng, beliau diganti oleh putra sulung Sri Agra Samprangan yang sifatnya suka bersolek. Beliau kurang hirau pada pemerintahan. Seringkali para Patih dan Punggawa menunggu lama di balairung namun sia-sia karena Dalem tidak juga keluar. Karena demikian beliau dinamai Dalem Ile. 

Melihat keadaan demikian, Ki Gusti Kebon Tubuh berusaha mencari adik Dalem Ile sebagai pengganti. Namun adiknya yang senang berjudi itu sulit ditemukan, selalu berpindah tempat. Akhirnya ditemukan di desa Pandak, maka beliau disebut dengan nama Ketut Ngulesir yang kemudian bergelar Ida Dalem Ketut Ngulesir menjadi raja Bali Dwipa menggantikan ayahnya Ida Ketut Kresna Kepakisan.
***